Ternyata bersepeda Dapat Mengurangi Risiko Demensia
11 August 2026
Demensia adalah penurunan fungsi kognitif otak yang biasa diderita oleh kelompok usia lanjut. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan menurunnya daya ingat, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, hingga menjalani aktivitas sehari-hari. Kabar baiknya, riset medis terkini menunjukan bahwa rutin bersepeda dapat mengurangi resiko demensia dan menjaga ketajaman fungsi otak.
Sebelumnya, jurnal The Lancet pada 2024 menyebutkan bahwa olahraga dan aktivitas fisik sebagai salah satu dari 14 faktor yang dapat mencegah dan menunda kemungkinan demensia hingga 45 persen kasus. Bersepeda menjadi salah satu jenis olahraga yang diteliti lebih lanjut keterkaitannya dengan demensia. Dalam jurnal JAMA Nework Open, studi yang dilakukan pada 480.000 peserta dari Inggris Raya membuktikan bahwa bersepeda dapat menurunkan risiko demensia hingga 19% dan alzheimer hingga 22%.
Dilansir dari health.detik.com, partisipan berusia 40 hingga 69 tahun yang direkrut dari 2006 hingga 2010 melalui program UK Biobank. Partisipan diminta mengisi kuesioner tentang moda transportasi yang digunakan dalam empat pekan terakhir. Setelah diteliti selama 13 tahun, tercatat 8.845 orang mengalami demensia dan 3.956 orang terkena Alzheimer.
Hasilnya, bersepeda paling kuat dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah dan memiliki hipokampus yang lebih besar. Hippocampus sendiri adalah bagian otak yang berperan dalam memori dan pembelajaran. Berjalan kaki juga menurunkan risiko demensia 6%, namun berkaitan dengan risiko alzheimer 14% lebih tinggi.
"Studi ini adalah yang pertama menunjukkan bahwa bersepeda tidak hanya terkait dengan risiko demensia yang lebih rendah tetapi juga dengan hipokampus yang lebih besar," kata dr Joe Verghese, profesor dan ketua neurologi di Stony Brook University di New York, dikutip dari CNN.
Hobi Bersepeda dan Menurunnya Risiko Demensia
Ketika mengayuh sepeda, akan memancing peningkatan aliran darah kaya oksigen menuju otak dan mendukung kerja saraf. Proses metabolisme ini merangsang pelepasan hormon neurotrofik (brain-derived neurotrophic factor) yang bertugas memperbaiki dan membangun sel-sel otak baru. Peningkatan volume darah akan memperkuat area hipokampus yang bertanggung jawab atas memori dan fungsi belajar.
Mengutip Alodokter, aktivitas bersepeda di luar ruangan tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran fisik, tetapi juga memberikan stimulasi visual dan spasial yang kompleks bagi sistem saraf pusat. Saat bersepeda, otak terus bekerja untuk menjaga keseimbangan, membaca arah dan kondisi jalan, serta merespons lingkungan sekitar dengan cepat. Kombinasi antara aktivitas fisik dan konsentrasi mental ini dapat membantu menjaga fungsi otak serta memperlambat proses penyusutan otak yang berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif dan kepikunan.
Untuk memperoleh manfaat yang optimal, bersepeda sebaiknya dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari aktivitas fisik rutin. Target aktivitas fisik selama minimal 150 menit per minggu dapat menjadi acuan, dengan intensitas yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan tubuh. Jangan lupa untuk selalu mengutamakan keselamatan dengan menggunakan helm, memilih rute yang aman, serta menghindari paparan polusi kendaraan secara berlebihan.